iiszatnika

Mari Merayakan Hari

Aku dan Jakarta

Aku datang ke Jakarta pada 2000, inilah perkenalanku dengan Jakarta

Pertamakali naik bajaj

Diturunin sama abangnya di sudut jalan Fatmawati padahal minta dianter ke Jalan Bangka. Nggak jelas alasan abangnya kenapa dia begitu tega. Kelak, beberapa tahun kemudian, aku kost di Fatmawati lalu menyadari, betapa jauhnya jarak Fatmawati dan Jalan Bangka.

Gedung yang diinjak pertama kali

Lokasi liputan di gedung besar di Jakarta pertama kali adalah Bursa Efek Jakarta. Melihat lantainya yang berkilat, gedung yang mentereng dan seliweran orang-orang wangi, aku begitu terkagum-kagum. Padahal dulu, tempat kerjaku di Yogya Kepatihan Bandung sudah berasa sebagai gedung paling keren sedunia.

Hotel yang pertamakali dimasuki

Sepuluh tahun lalu, disuruh liputan seminar ekonomi di Hotel Four Season. Kalo nggak salah, Faisal Bsasri jadi pembicaranya. Wuih, selain terkagum-kagum sama hotelnya yang berasa mewah banget, aku juga terkagum-kagum sama makanannya yang enak dan berlimpah ruah. Terus-terus, ada minuman bersoda yang bisa kita minum sepuasnya. Aku makan kayak kesurupan. Setelah itu, kebiasaan mengisi perut sekenyang mungkin kalau liputan di hotel-hotel pun berlanjut. Membuat tubuhku terus mengembang hingga kini, bertambah hingga 18 kilo saat pertama kali menginjak Jakarta.

Sakit hatiku pada abang metromini

Selain kecepatannya yang seru sekaligus ngeri, sampai saat ini masih sering sakit hati sama supir dan kenek metromini dan tentunya kopaja, tapi untuk singkatnya, aku sebut metromini saja. Saat kita mau naik, dengan agresifnya mereka menyuruh kita masuk tapi begitu sampai blok M (saat itu aku paling sering turun naik kendaraan di Blok M), dengan tanpa tedeng aling-aling, mereka menyuruh semua penumpang turun. Sadis, nggak pakai basa-basi. Padahal kan, kalau pun nggak disuruh turun, kita pasti akan turun ya! Habis! Habis! katanya.

Belum lagi kalau kita lagi enak-enak tidur, dibangunin seenaknya dan disuruh pindah mobil. Dari pengalamanku disuruh pindah mobil, 75%nya berubah posisi, dari tadinya bisa duduk tentram, jadi berdiri!

Kost-kostan

Aku kost pertama kali di Jalan Bangka dan temen kuliah (cowok) yang juga kerja di koran yang sama juga kost disitu. Dan dengan tanpa rasa bersalah, aku menitipkan celana panjangku untuk dicuci ditempat kostnya. Kan, celana panjang nggak bisa dideteksi. Kostanku Rp 150 ribu, ada kamar mandi di dalam kamarnya, lumayan bersih dan tenang, di dalam sebuah gang yang padat.

Leave a comment »

Petersaysdenim: Jin, Rock, dan Dolar

Jin berlogo sayap yang bermerek Petersaydenim menerapkan online marketing dan meng-endorse band AS untuk menggunakan produknya.

SEMBARI kuliah, Peter Firmansyah bekerja. Alasannya, butuh uang. Ia lalu jadi penjaga toko, petugas gudang, dan kemudian kasir di sebuah butik surfing and clothing industry. Alasannya, ia senang dengan fesyen sekaligus suka bergaya.

Setelah tiga tahun bekerja, kuliahnya memang terputus. Namun, ia telah menyiapkan amunisi untuk bisa tetap tampil keren sekaligus membuat orang lain ikut gaya dengan denim buatannya.

“Dari pekerjaan sebagai shop keeper (penjaga toko) saya tahu bagaimana merayu orang yang tadinya enggak punya niat untuk beli sampai akhirnya mau belanja, dari pengalaman memeriksa barang satu kontainer yang aku cek sendiri, aku jadi tahu soal inventory dan dari pengalaman sebagai kasir aku tahu bagaimana berurusan dengan uang, sudah lengkap kan semua,” kata pria ini.

Bisnis distro dan clothing di Bandung memang boleh saja dibilang sudah mencapai titik jenuh. Pemain lama masih bertengger di puncak, sedangkan muka-muka baru berupaya bertahan, tapi polanya tidak bisa jauh-jauh dari rekam jejak para senior mereka.

Peter, yang kemudian merintis jalan bisnisnya dengan jadi vendor untuk sejumlah perusahaan clothing dengan spesialisasi denim, lalu mendirikan merek jinnya sendiri, Petersaydenim.

“Lumayan, jadi vendor saya dapat Rp150 juta per order. Empat tahun saya jadi vendor sebelum memutuskan mendirikan Petersaydenim. Saya ingin punya merek sendiri dan konsepnya total beda dengan clothing yang selama ini ada,” kata lelaki kelahiran Bandung, 4 Februari 1985 ini.

Petersaydenim dipasarkan lewat dunia maya, tapi jangkauan strategi bisnisnya jauh melampaui aktivitas memuat foto, memuat harga, menunggu pesanan datang, dan diakhiri mengirim ke alamat si pembeli.

“Saya mau barang saya ini ada di level atas, saya mau menyasar anak-anak muda yang punya duit, fanatik dengan merek dan tentunya tahu denim yang bagus,” kata Peter ketika ditemui di Media Indonesia di lokasi produksi jinnya di kawasan Buah Batu, Bandung, akhir pekan lalu.

Peter pun bulat menjadikan rock, baik itu musikalitasnya maupun genre gaya hidup sebagai konsep dasar produknya. Maka, ia pun menyasar band-band rock asal Amerika Serikat, Sky Eats Airplane serta August Burns Red serta band Malaysia, Love Me Butch, Cassandra serta Information.

Peter meng-endorse band-band tersebut. Menyuplai satu potong celana untuk tiap personel band-band itu setiap bulannya. Sebagai imbalannya, mereka wajib menyebut merek Petersaydenim saat konser juga memasang alamat website di album mereka. Peter juga mengalokasikan anggaran khusus untuk memasang iklan di majalah musik juga gaya hidup anak muda luar negeri. “Lumayan besar juga anggaran promosi kita, sampai Rp70 juta per bulan,” kata Peter.

Pasar LN

Namun, ongkos besar itu tentu berimbang dengan arus dolar yang kemudian mengalir. Pelanggan Petersaydenim separuhnya berasal dari luar negeri, mulai dari tetangga, terutama Malaysia hingga Amerika Serikat, Skotlandia, Kanada hingga Inggris.

“Kami sangat selektif. Pemusik Indonesia yang kami endorse antara lain Saint Locco dan Ello. Profilnya juga kena, pas dengan Peter,” kata pria pendiri band Petersaysorry yang hingga kini mengaku masih aktif bermusik dan berencana segera bisa pensiun dini agar bisa fokus kembali bermusik.

Para personel band-nya kini bergabung jadi penjaga gawang Petersaydenim. “Tim Peter ada 10 orang, memang karena kami pakai jaringan band, kami punya akses ke Truth, drum yang dibuat made by order. Kami bisa masuk ke band-band top di luar. Kadang ini seperti mimpi, band yang dulu idola sekarang telepon kami, jadi partner kami,” ujar Peter sembari tersenyum.

Selain bergerilya lewat band, Peter serius menggarap target pasarnya lewat e-mail, forum, Facebook, Twitter, Yahoo Messenger hingga Skype.

“Forum saja ada 80 yang kami ikuti, sebagian besar forum anak muda, fesyen, dan gaya hidup. Saya dan juga tim juga harus online hampir 24 jam. Saya biasa online hingga pukul 02.00 karena ada perbedaan jam dengan pembeli di benua lain, kan,” kata Peter.

Omzet meroket

Ketekunannya memberikan sentuhan personal buat konsumennya membuat Peter kini mulai memetik hasil. Ia mengaku omzetnya terus berlipat dari bulan ke bulan. Kini masih berada di kisaran Rp300 juta per bulan, tapi Peter mengaku optimistis nilainya akan terus menggelembung.

“Mulanya kami produksi satu edisi 50 pieces, habis, lalu desain baru kami buat 100, habis juga. Sekarang kami sedang ukur berapa jumlah produksi yang paling ajek, mungkin bisa 1.000 per desain,” ujar Peter yang mengaku, kendati mengandalkan tabungannya sebagai vendor denim untuk mulai berbisnis, Petersaydenim bisa dibilang dibangun dengan modal dengkul.

“Kan semua bisa dibayar mundur satu bulan, kainnya, jahitannya, jadi asal yakin produk laku, bisnis ini bisa dimulai,” ujar Peter.

 

Leave a comment »

Legenda Gulai Kepala Ikan

Menyertakan ganja sebagai salah satu bumbu masak. Rasa gulai kakap di restoran ini memang juara.

PENASARAN dengan cerita tentang gulai kepala ikan Rumah Makan Medan Baru di Jalan Krekot Bunder, Jakarta Pusat, siang itu kami menjajalnya. Kalau tak akrab dengan liku-liku kawasan perdagangan ini, jangan ragu bertanya pada petugas parkir. Patokannya, kawasan Pasar baru, pusat perdagangan tekstil dan peranti salon itu.

Jam makan siang telah lewat, tetapi keramaian masih tersisa di rumah makan yang telah berusia 35 tahun itu. Tak jauh beda dengan restoran Padang yang memajang masakan jadi di muka, rumah makan milik Ibrahim, 57, ini juga memajang rendang daging, sambal goreng ati, lalab daun pepaya, gulai ayam dan belasan menunya di lemari kaca. Semuanya berbalut bumbu Aceh Melayu.

Namun, sang legenda diletakan di tempat berbeda. Ia ditempatkan di dapur bersih, masih di depan rumah makan, tertata rapi diatas wajan-wajan alumunium raksasa yang terpapar api kompor. Tiap beberapa menit sekali petugasnya mengaduk kuah kuning nan kental itu. Ada tiga ukuran kepala ikan yang tersedia, kecil, sedang dan besar.

Kami mencoba ukuran sedang, buat tiga orang rasanya lumayan cukup.

Walaupun kata Ibrahim, yang kemudian menemani makan siang menjelang senja kami, banyak pelanggannya yang sanggup menghabiskan satu hingga dua kepala ikan besar sendirian.

Kuah gulainya sarat bumbu. Ibrahim yang Aceh asli mengaku meramu sendiri bumbu-bumbunya sebelum meneruskannya pada para juru masaknya.

Aroma rempah-rempah langsung merebak, disusul gurihnya santan. Jelas juara! Jangan melirik sendok garpu, gunakan tangan langsung. Jangan ragu juga untuk menyesap tulang-tulang ikan itu, karena semua orang di ruangan itu juga melakukan hal sama.

“Bumbu-bumbunya dari Aceh, banyak rempah-rempahnya, ada jintan, adas,

pala, kapulaga. Macam-macam, kita campur jadi satu. Sekarang sih bisa diperoleh disini, tapi ramuannya khas Aceh,” kata Ibrahim yang rajin menyapa pelanggannya bahkan tak ragu menghampiri satu per satu meja untuk membantu penikmat gulainya membongkar kepala sang kakap itu.

Tak ragu, Ibrahim mengaku menyertakan ganja sebagai salah satu bumbu masak. Mitos tentang masakan Aceh yang menggunakan ganja untuk mendongkrak rasa, terjawab sudah. “Tapi sudah berbentuk bubuk, sudah tidak bisa diisap, yang makan juga nggak akan mabuk. Soal siapa yang kirim, ada yang kirim ke kita,” kata pria yang mengaku menentukan sendiri 30 resep masakan yang disajikan di rumah makannya itu.

Benar saja, kami jadi saksi ketika kepala-kepala ikan segar yang telah ditaburi ganja dimasukan satu persatu ke wajan dan 15 menit kemudian siap disajikan. Bahkan, Ibrahim tak ragu menyebut sambal ganja sebagai salah satu jenis makanan favorit pelanggannya. Rasanya, masih sarat rempah-rempah tapi ada rasa asam yang segar, salah satunya dari campuran belimbing sayur. Tapi, jangan tanyakan pedasnya.

Sama sekali tak menyengat, namun ditasbihkan Ibrahim sebagai jodoh resmi sang gulai.

Kakap Putih

Ibrahim memilih kepala kakap putih karena buat bumbu yang diraciknya,

memang jenis ikan itulah yang dirasa paling pas. Kini, ia dapat lega karena dapat menyajikan 200 hingga 300 porsi kepala ikan setiap harinya tanpa khawatir suplai bahan baku yang tak menentu.

“Sekarang kita dapat kiriman dari Timika Papua, dulu waktu masih mengandalkan Lampung atau Riau, masih sering kurang. Walaupun kita jual masakan lain tapi kalau tidak ada kepala ikan, orang yang sudah sampai bisa pergi lagi,” kata laki-laki yang hingga kini masih menunggui rumah makannya kendati usahanya itu telah digawangi tak kurang 80 pegawai.

Buat memenuhi hasrat pelanggannya yang gelisah gara-gara efek kuah kental di menu favoritnya pada kadar kolesterol, kini Ibrahim melengkapi menunya dengan gulai tanpa santan. Kendati lebih dari 90% pembeli yang datang adalah pelanggan tetap yang selama belasan hingga puluhan tahun rutin makan di restorannya, Ibrahim mengaku tak malas menciptakan menu-menu baru.

Kini, selain gulai kepala ikan dan goreng burung punai yang paling banyak dicari, ia telah mengkreasi gulai cucut. Rasanya segar, gurih tanpa amis. Menu lain yang kami jajal, dendeng daging bertabur cabe merah merona. Manis, sedikit pedah dan tentu saja kaya aroma. “Beda kan dengan tempat lain,” kata Ibrahim yang kini membuka cabang di kawasan Sunter Jakarta Utara.

Kendati wujudnya tak jauh beda dengan warung Padang, Ibrahim memang tak main-main dengan rasa. Maka, ia mengaku hanya memilih bahan baku premium yang ia pilih langsung setiap harinya. Tak heran, sop buntut yang tersaji pun tak kalah mantap. Rasa asam segar dari tomat berpadu rasa rempah yang tajam membuat kami tak merasa berdosa melumat buntut yang empuk.

Cukup beralasan jika dari satu ruko yang ia tempati saat Ibrahim pertama kali berjualan pada 1975, kini sudah berbiak jadi empat. Rencananya juga akan beranak pinak membuka cabang baru di Jakarta Barat.

Buat menutup makan-makan besar kami, pilihan jatuh pada fajri, potongan nenas yang dibalur rempah berhias cabai merah besar. Asam, manis dan yang pasti enak! Legenda itu sudah kami buktikan.

Leave a comment »

Koalisi Gabus, Sambal Terasi, dan Sayur Asam Betawi

Seperti karakter warga Betawi yang tak suka berpura-pura, rasa sayur asam di warung H Matalih Joglo ini pun begitu juga. Selain pedas, asamnya langsung pol menendang lidah!

MAU makan sayur asam betawi yang paling paten? Ya datang saja ke Rumah Makan Sayur Asam Betawi di Gang Sayur Asam, Joglo, Jakarta Barat.

Penamaan gang itu tentu berkorelasi dengan sejarah panjang yang dilewati tempat makan yang eksis sejak tiga puluh tahun lalu itu.

Melewati tiga dekade, menu andalannya tetap sayur asam. Rasa asamnya tak malu-malu berpadu pedas dari cabai rawit hijau utuh yang berbaur bersama daun melinjo, terong hijau bulat, dan kacang panjang.

Sudah begitu, menu tersebut disajikan dengan suasana tempo dulu yang terasa di rumah makan berlantai tanah ini. Ada dinding kayu cokelat yang meneduhkan, jendela-jendela besar yang menghadirkan kenangan pada rumah asli warga Betawi. Semuanya dihadirkan tanpa upaya berlebihan, tak seperti banyak restoran di mal yang sengaja memboyong khusus daun pintu, kandang burung, hingga lemari kayu yang bisa jadi diboyong dari pelosok perkampungan.

Kendati suasananya ‘Betawi banget’, warung ini lumayan terampil menjaga kebersihan. Lantai tanah tak membuat rumah makan yang superramai di akhir pekan ini terkesan jorok. Sebaliknya, adem dan egaliter.

Tak seperti banyak rumah makan lainnya yang mengusung sajian tradisional dengan nama yang melegenda, warung ini tak hanya ramai dikunjungi mereka yang berkendaraan mewah. Para pelanggan mereka juga golongan yang berkantong tak terlampau tebal. Karena itu, buat para pecintanya, makan di rumah makan ini tak mesti menjadi acara yang terlampau menyedot uang bulanan.

Ramah di dompet Seusai menikmati suasana, mari menikmati sajiannya. Tentu saja yang wajib dipesan sepiring sayur asam! Harganya cuma Rp4.000 rupiah, dengan porsi yang dermawan.

Oncom berbahan baku ampas tahu yang populer di Jakarta, menurut H Matalih, sang pemilik warung generasi kedua, menjadi komponen penyumbang rasa yang utama. Tapi, eksistensi si oncom sendiri jarang bisa ditemui secara kasatmata. Juru masak di dapur tak akan dengan sengaja memasukkan potongan oncom itu ke piring.

Bisa jadi, tampilan sayur asam betawi racikan Matalih memang berkorelasi dengan karakter warga penduduk asli Jakarta ini. Kuahnya bening, tampil berani dengan rasa asam yang menggelora dan pedas yang menantang. Jujur dan apa adanya.

Jangan lupa pesan juga teman-teman si sayur asam, seperti bakwan dengan taburan udang berukuran sedang dengan tingkat kerenyahan terjaga. Begitu pula dengan potongan ikan asin gabus dengan ukuran yang royal patut dicoba. Menu itu cocok buat yang ingin kembali pada keyakinan bahwa perpaduan sayur asam, sambal terasi, dan ikan asin adalah kombinasi yang paling pas buat membangkitkan nafsu makan.

Tempe goreng di rumah makan ini juga terbilang jempolan. Mirip dengan sajian serupa di warung-warung Sunda, ketebalannya terbilang lumayan, tetapi bumbunya terasa begitu meresap dan kerenyahan yang pol. Nah, beberapa pengunjung hobi meminta special order buat menu ini. Mereka meminta tempe itu dibelah dua sehingga tampil lebih tipis dan kriuk dan membuat mulut tak kuasa berhenti mengunyah.

Salah satu signature dish dapur Matalih yang didesain terbuka, karena dapat dengan mudah diakses para pembeli, baik dengan mata maupun langkah kaki, adalah mujair goreng. Garing, tetapi dengan lapisan daging yang memuaskan. Lalu, jangan lupakan juga sambal merah yang pedasnya nendang. Buat mereka yang tak tahan dengan serangan cabai rawit, sebaiknya sambal itu cukup dicocol tipis-tipis.

Menu lainnya yang juga kerap ditawarkan adalah lalapan dengan jumlah yang sangat melimpah, tetapi dihargai seribu rupiah saja per piring. Jadi, cocolkan gabus asin ke atas sambal, campurkan lalapan dalam suapan, dan terakhir seruput kuah sayur asam nan segar. Nyam!

Leave a comment »

Berpetualang di Dapur Babah bagai Radja Ketjil

Menu Peranakan terinspirasi dari racikan rahasia di Dapur Babah. Saking nikmatnya, kita bisa merasa bagai Radja Ketjil

MUMPUNG belum jauh dari hawa tahun baru China, Sin Cia, kami memutuskan berpetualang di dunia China peranakan. Target pertama ialah Dapur Babah Elite di Jalan Veteran 1 Jakarta Pusat yang pada masa kompeni dikenal sebagai Citadel Straat. Pionir restoran peranakan di negeri ini menempati dua ruko peninggalan masa kolonial, hanya terpisah satu pintu dari Es Krim Ragusa yang juga berdiri sejak para londo bercokol di negeri ini. Patung Buddha raksasa berwarna putih di depan pintu utama, seolah menjanjikan petualangan mengasyikkan.

Benar saja, patung Buddha, Dewi Kwan Im, lukisan-lukisan hingga poster iklan jadul di restoran yang didirikan pada 2004 itu membuat kami terbawa ke sebuah masa ketika Indonesia masih terbagi dalam kasta. Ada para noni dan meneer yang paling dihormati, serta para babah di posisi kedua, disusul pribumi di status terbawah.

Tapi tidak semua kaum pribumi dinomortigakan. Orang-orang lokal masih bisa naik derajat, asal mereka menikah dengan kasta di atasnya. Nah, mereka yang menikah dengan imigran China kemudian disebut kaum peranakan. Anak cucu yang lahir dari perkawinan campur itulah yang dipanggil babah. Istilah itu populer di Malaysia juga pada sebagian etnik Betawi dan Jawa.

Para babah prigel mengawinkan masakan China Daratan dengan menu lokal, terkadang melibatkan gaya kuliner kolonial. Mereka mengawinkan tradisi kuliner China yang kaya dengan aneka ragam sup, banyak diwarnai kecap serta tak bisa jauh-jauh dari ayam dan bebek.

“Menunya dikoleksi dari resep-resep rahasia keluarga peranakan, jadi pasti otentik dan enak,” kata Desiree Zecha, Executive Sales Manager Dapur Babah yang menemani kami.

Menu pertama yang kami cicipi adalah lidah sapi terseloeboeng. Lidah dibumbui bistik, dengan bumbu kecap dan merica. Bistik sendiri merupakan upaya masyarakat Jawa menerjemahkan menu steak yang dibawa para meneer di masa lalu. Selain namanya yang kemudian dijawakan, perendamnya pun dilokalkan dengan melibatkan kecap.

Puas menikmati kelembutan sajian lidah yang sebenarnya lebih kental unsur kolonial dan Jawanya, kami lalu beralih ke nasi hijau yang disajikan dalam pincukan daun pisang. “Kita pakai daun suji untuk mendapatkan warna hijaunya dan pandan agar wangi,” kata Desiree.

Benar saja, selain pulen dan gurih, keharuman dan wujudnya yang segar membuat nasi–bahkan tanpa lauk pun–tandas dalam sekejap. Sebagai penutup, giliran lontong cap gomeh, sajian wajib di dapur peranakan yang dihidangkan dua pekan setelah Imlek. Sang lontong tiba dengan pasukan lengkap, ada ayam yang dibumbui opor kuning, sayur pepaya berpadu pete, udang goreng kering serta serundeng udang dan kelapa. “Yang paling istimewa, yang khas Babah adalah bubuk kedelainya. Buat menikmatinya, ini mesti dicampurkan dengan kuah,” kata Desiree.

Radja Ketjil Petualangan belum berakhir. Jika Dapur Babah menghadirkan suasana eksotik nan otentik yang avant garde, kini giliran mencicipi sajian peranakan yang juga telah hip di kalangan urban. Kami pun berputar ke Plaza Semanggi menuju salah satu dari tujuh cabang Radja Ketjil yang tersebar di seantero Jakarta.

Dari segi desain, restoran milik Calerina serta komedian Tika Panggabean itu kentara lebih ringan kendati tetap berusaha menghadirkan suasana masa lalu. Ada nampan kaleng dan rantang besi berlukis kembang-kembang yang dipajang bersama daun pintu, pagar dan kandang burung yang pasti akan membuat setiap orang bergumam, mengingat-ingat masa lalu.

Kami dijamu ayam goreng ibu tiri berbalut ulekan cabai rawit hijau berhiaskan irisan daun bawang. Ada juga menu favorit Radja Ketjil lainnya, tahu hujin tje lie rina yang konon merupakan nama peranakan si pemilik. Niat awal sekadar icip-icip pun runtuh. Ayam goreng yang konon pedasnya mirip ibu tiri yang kejam–karena tentu ada juga yang baik hati–, terasa begitu berani, memaksa kami untuk tak berhenti di suapan pertama. “Kami padukan dengan kemiri, asyik kan?” ujar Risti sang store manager.

Perhatian kemudian berlanjut pada tahu bertabur ayam cincang berbalut saus tiram. Tahu home made di setiap resto Radja Ketjil ini tidak hanya melibatkan susu kedelai, tapi juga kuning telur! Irisan daun pocay di bagian bawah tahu membuat tampilannya kian cantik. Ayam tandas, tahu pun ludes, perjalanan menyusuri menu peranakan pun tuntas sudah dengan satu janji, lain kali meski tak Sin Cia, kami mesti mampir lagi!

Leave a comment »

Surfing, Sablon, dan 347

PULANG surfing (berselancar), Dendy Darman mesti putar otak, mengumpulkan bekal agar sesegera mungkin bisa kembali ke pantai. Maka, ia mulai menyablon kaus desainnya sendiri, menjualnya, lalu kembali ke papan selancar.

MALAM di pertengahan Januari, beberapa kali Dendy Darman mengirim pesan pendek, mengonfirmasi waktu wawancaranya dengan Media Indonesia. Dendy mengaku telah punya janji lain sehingga tak bisa lama menunggu.

Setelah bertemu, ia menjelaskan ikhtiarnya. “Gue punya janji sama shinse, badan gue udah kerasa enggak enak, kegemukan nih. Katanya, shinse itu bisa nyembuhin macem-macem termasuk kasus gue ini,” kata pria 35 tahun itu sembari mengantar berkeliling distro 347 miliknya di kawasan Trunojoyo Bandung.

Tak kurang dari 15 pengunjung memenuhi distro yang ukurannya tak lebih dari 100 meter persegi itu. Sebagian besar anak muda, tapi dua ibu tampak sibuk menanyakan ukuran kaus yang dipilih sang putra.

Kendati beberapa temannya semasa sekolah memberi kesaksian jika ia memang tak ‘berbakat’ punya badan ideal, Dendy merasa kini ukuran tubuhnya sudah perlu diwaspadai agar tak mengganggu hobi lama yang hingga kini tak pernah ditinggalkannya, surfing.

Dengan lancar, Dendy lalu bercerita tentang pantai-pantai berombak atraktif yang rutin disambangi para peselancar lokal juga surfer bule-bule hingga berbulan-bulan.

“Gila lo, pantai-pantai di kita ini, masuk wish list surfer-surfer bule di luar negeri,” kata pria berdarah Makassar ini. Sejak SMA sampai tamatk kuliah di Fakultas Seni Rupa Institut Teknologi Bandung, Dendy memang tak lepas dari ombak. Namun, pantai bukan cuma membuat Dendy berkenalan dengan sejenis jamur pantai memabukkan yang kerap dimakannya untuk mengisi malam-malam sepinya di pinggir laut, tapi juga gelontoran uang yang mengalir deras ke koceknya.

“Gue kan enggak selamanya bisa minta duit terus, buat bertahan hidup, gue bikin dan jualan kaus ke teman-teman kuliah juga bule-bule yang gue temuin pas surfing.

Awalnya, ia membuat kaus surfing untuk dipakainya sendiri. Peluang bisnis itu pun datang juga. Saat memakainya ada temannya yang mengaku suka.

Tanpa menyia-nyiakan peluang dan sedikit berbohong, Dendy menawarkan diri untuk membantu membelikan kaus di toko langganannya. Padahal kaus yang dijanjikan kepada kawannya itu ia sablon sendiri di kamarnya. Begitu seterusnya dan semakin lama tanpa terasa teman-teman yang lainnya memesan kaus surfing kepadanya.

Pada 1996, saat Dandy masih menyablon kaus di kamarnya, istilah distro juga barang-barang clothing keluaran pabrikan independen di dalam negeri masih jadi kata yang asing. Nike, Reebok, dan Billabong menjadi orientasi fesyen anak-anak muda saat itu.

Merek internasional tentu bukan barang murah, belum lagi masalah ukuran dan desain yang membuat anak muda Indonesia penggila merek itu, kerap terlihat tidak sedap dipandang saat dibungkus kaus dan jaket mahal.

Fenomena itulah, kata ayah satu putra itu, yang membuat dagangannya mampu mencuri perhatian anak-anak muda Bandung saat itu. Lalu siklus berbisnis dengan tujuan bersahaja, agar bisa kembali ke pantai untuk surfing itu terus berulang. Dendy mendesain, menyablon sendiri, lalu menjualnya ke teman kampus, teman surfing dan kembali ke pantai.

Saat mulai berbisnis untuk mempertahankan gaya hidupnya sebagai surfer, gerakan independen mulai menggeliat di Bandung. Banyak anak muda membentuk beberapa komunitas yang bertahan hidup dengan aktivitas masing-masing. Dendy pun berkawan dekat dengan band-band indie dan anak-anak pemain skate board.

Kebetulan ada seorang ibu yang punya rumah, nomor rumahnya 347. Dandy dan kawan-kawannya biasa kumpul di situ, ibu itu mengikhlaskan rumahnya jadi base camp kita. Dari situ lahirlah band indie Puppen, termasuk juga distro mereka. “Makanya namanya 347 walaupun sekarang kita sudah pindah ke Jalan Trunojoyo nomor 4,” kata Dendy menjelaskan nama distronya.

347 memang terbilang distro generasi pertama yang lahir di Bandung. Kini, tak kurang dari 500 toko menaruh label distro di papan nama mereka. Sebagian, masih lekat dengan gerakan dan komunitas independen, tapi juga banyak yang merupakan kepanjangan tangan para pebisnis yang memang ingin menangguk keuntungan dari hangatnya bisnis clothing dan distro.

Desain yang unik dan kualitas bahan yang dijaga betul membuat omzet 347 terus menggemuk. Kini 347 telah punya adik, sebuah toko yang juga bernama 347 di Singapura. Jika di masa lalu 347 masih memakloonkan (membagi pekerjaan) beberapa item desainnya pada pihak lain, kini sudah punya pabrik juga mitra produksi yang hanya boleh mengirim barang ke 347.

Aliran uang dari bisnis clothing, pesanan dari distro-distro di seluruh Indonesia, kini jadi mesin uang utama 347 yang kini digawangi 180 pegawai. Hitung saja berapa deras aliran uang yang masuk ke kantong Dendy jika produksi kausnya saja bisa mencapai 30 ribu pieces setiap bulannya, belum terhitung jins, kemeja, dan aksesori lainnya.

Main-Main Versi Dendy DENDY meletakkan ‘kontainer-kontainer’ kardus di Galeri Nasional Jakarta pada Bandung Art Now pertengahan Januari lalu. Tulisannya, Never Green, ia menambahkan huruf N di depan kata ever yang mengingatkan pada perusahaan ekspedisi besar. Industri, kapitalisasi, memang sulit berdekatan dengan alam, hijau dan lingkungan.

Dendy yang selalu mengesankan dirinya main-main, tak serius, identitas yang melekat pada anak muda sekarang, ternyata bukan cuma jadi penyuplai buat ratusan pengusaha distro di berbagai daerah yang mendapat diskon hingga 35% dari harga jual juga setia dengan dunia seni.

Selain mendukung band-band indie semacam Puppen, Dendy rajin menekuni seni instalasi. Buat memelihara mood-nya, kendati kini ia jadi pemilik 347. Dendy mengaku tak mau terlalu serius dalam bisnisnya.

Dengan cerdas, ia membagi dua divisi di perusahaannya. Satu divisi bisnis yang memang berorientasi betul pada profit seperti menangani pemasaran, sumber daya manusia, dan produksi. Satunya divisi kreatif dan desain yang disterilkan dari sentuhan bisnis.

“Itulah makanya, dari 15 desainer yang ada, bisa tuh mereka bilang, lagi enggak mood nge-desain, terus sebulan enggak bikin apa-apa, liburan dulu, ke kantor cuma main games atau ngegitar. Enggak boleh ada yang protes karena kan mereka harus di mood-nya saat bekerja,” ujar Dendy.

Kok bisa, bukannya perusahaan clothing benar-benar bergantung pada orisinalitas desain? “Sebulan ya paling sedikit ada 500 desain, satu desain maksimal produksinya 100 pieces,” jawab Dendy, memberi kesimpulan bagaimana indikator main-main itu bisa sangat relatif buat ukuran tiap-tiap orang.

Kini, setelah mengibarkan bendera 347 jadi distro papan atas Bandung, Dendy masih rutin mengunjungi pantai Batu Karas di Pangandaran. Namun, di sana ia bukan cuma bermain-main dengan ombak di pantai yang jadi favorit para surfer dunia itu. Tapi ia lagi-lagi punya hajat bisnis di sana. Dendy kini punya paket tour surfing lengkap dengan cottage dan travel.

Namun, ternyata ukuran main-main versi Dendy tak selamanya berlaku. Saat memutuskan menikah dan punya anak, Dendy nyatanya juga mesti setia dengan komitmen. Termasuk ketika ia memutuskan untuk pindah rumah.

“Dulu rumah di Dago, tersembunyi, ada di tepi tebing, gue bolehin temen pake, kadang gue mesti nginep di luar karena teman bikin party. Istri gue jelas enggak mau tinggal di rumah itu, khawatir anak. Ia masih pengen rumah yang normal, ada tukang sayur atau tukang bakso lewat. Ya udah, gue pindah deh,” kata Dendy.(M-4) Nama : Dendy Darman Tanggal lahir : 27 September 1973 Istri : Karlina Tris Anak : Arroyan Dali (4 tahun) Kuliah : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Posisi : Pendiri, Direktur PT Unkl 347 Pendiri, Indicator (line untuk extreme sport) Pendiri, Unkl n Nico (line untuk girls outfit) Pendiri, Scandals n Affair (line untuk interior) Pendiri, 7 Pliy (line untuk skate boarder) Kegiatan lain : Narasumber utama untuk buku After 10 Years They Call Us Unkle, 2008 (penulis: Ardo Ardana dan tim)

Leave a comment »

Petualangan Rasa di Pasar Cihapit

Pasar yang satu ini jauh dari kesan negatif. Tidak becek, tidak berbau, malah kaya rasa. Wajib anda kunjungi jika mampir ke Bandung.

Musim liburan kali ini, jika Anda memutuskan bertandang ke Bandung, jangan cuma mampir ke factory outlet atau mencoba kafe-kafe baru yang senantiasa bermunculan di kota kembang ini. Cobalah mampir ke Pasar Cihapit. Letaknya tidak terlampau jauh dari Gedung Sate. Memang harus berjuang ekstra keras untuk menemukan posisi pasar tua nan legendaris ini, mengingat hingga saat ini Bandung masih tenar dengan jalan-jalan satu arahnya.

Akhir pekan lalu, kami berniat bulat untuk bertualang di pasar yang konon telah dibuka sejak Belanda bercokol di Paris van Java. Melewati rumah-rumah art deco yang resik, kami sampai sebelum jam makan siang.

Puluhan tahun lalu, kemungkinan besar rumah-rumah itu dihuni para birokrat yang berkantor di gedung sate. Mungkin, karena itu, Pasar Cihapit yang terletak di ujung jalan rumah-rumah berukuran lega itu dikenal sebagai pasar tradisional yang bersih sekaligus kaya akan tradisi kuliner yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Benar saja, bahkan toko-toko kelontong, kios kue dan roti yang berjajar di muka pasar menawarkan pemandangan eksotik. Interiornya mengembalikan kenangan pada film-film Benyamin S saat muda. Etalase kaca dengan rak-rak kayu nan kokoh, ubinnya abu-abu dan berdinding tebal.

Namun, tak bisa lama-lama menikmati pemandangan serba retro itu, perut sudah meronta. Kami segera menemukan sebuah gang kecil. Sisi kanannya dipenuhi pedagang sayur bercampur dengan pedagang lotek, tutut, dan jiwel, soal nama-nama mekanan ini kami akan jelaskan nanti. Tak ada suasana becek dan bau khas pasar.

Memasuki jajaran kios-kios dalam pasar pun, cahaya matahari merajalela. Sepintas sayur mayur yang dijajakan berkualitas premium. Ada bawang kucai yang segar menantang mata, belimbing sayur yang gemuk dan cabai gendot super pedas yang hanya bisa ditemui di Kota Bandung dan sekitarnya terhampar rapi.

Mata kami segera menumbuk sebuah warung di pojok pasar. Ini dia yang kami buru! Ya, Warung Nasi Ibu Eha yang jadi lokasi mengisi perut siang itu.

Patut diduga seorang pria, bisa jadi pebisnis tengah duduk manis bersama pengemudinya di salah satu bangku panjang nan sederhana. Di sudut lain ada pegawai negeri sipil, mungkin ibu itu tak bisa menahan lapar menunggu hingga jam makan siang sehingga menyelusup dari kantornya ke warung ini.

Saatnya beraksi! Kami pun memburu meja makan tempat semua buah karya Ibu Eha tersaji, ada gepuk nan empuk, sajian ini wujudnya mirip emapl daging namun dengan taburan kelapa dan lengkuas yang royal, tahu dan tempe goreng, goreng ikan mas panas serta aneka menu tatar sunda lainnya.

Petualangan pun kami mulai. Pepes ikan masnya memang juara, tak ada rasa amis. Campuran kunyit, kemiri, daun bawang, kemnagi dan rempah-rempah tercampur sempurna.

Wujudnya memang sepintas tak terlalu menggoda, tapi dijamin akan membuat anda akan meruntuhkan niat diet. Belum lagi pepes pedanya! Ibu Eha yang siang itu terlihat sibuk mengomandani tak kurang sepuluh orang anak buahnya, menambahkan pucuk daun labu hijau untuk membungkus peda merah sebelum akhirnya diselimuti daun pisang.

Jempol berikutnya juga mesti kami berikan buat tumis gencer dengan campuran oncom. Pedasnya pas, dengan keempukkan yang pas. Jika dibandingkan dengan restoran Sunda yang juga menyajikan menu ini, genjer Ibu Eha berada di jajaran paling atas, mustahil disamai.

Ini jelas prestasi yang luar biasa, karena para asisten Ibu Eha memasaknya dalam porsi besar. Tentu ada keterlibatan teknik dan tradisi memasak yang sangat terjaga.

Bukan cuma itu, sistem open kitchen yang diberlakukan Ibu Eha tentu memaksa tim dapur menjaga kebersihan. Kendati di sudut-sudut warung, dengan santai mereka mengiris bawang atau mencuci sayuran, dijamin anda tak akan sadar tengah makan di warung yang terletak di pasar tradisional! “Warung ini sudah ada sejak 1947, dulu orang tua yang jualan, saya nerusin setelah 1960 an, dulunya orang belanda juga makan disini,” kata sang Ibu ketika kami hampiri di meja kasir. Sepanjang waktu kami makan, ibu yang sudah terlihat sepuh namun tetap sehat dan resik ini tak henti bergerak mengomandani anak buahnya. Wah, jangan-jangan londo yang masih tersisa di Indonesia paska proklamasi itu juga merem melek saat mencoel sambel dadakan orang tua Ibu Eha ya! Eit jangan cuma puas dengan Ibu Eha, jika perut masih menyisakan rongga, di mulut gang pasar, ada pedagang lotek yang mirip gado-gado minus timun, pare dan jagung dengan tambahan kecur dan terasi pada bumbunya, yang akan dengan sigap melayani anda.

Boleh juga memboyong sebungkus tutut. Hewan sawah ini, dalam tradisi Sunda dibumbui kunyit dan rempah-rempah. Lumayan gurih, walaupun akan ada rasa pahit yang tersisa.

Tak boleh dilewatkan juga cingcau hijau buatan Bapak Oman Kumis yang dijajakan di depan pasar. Anda bisa makan di tempat atau memebli bungkusannya yang telah dipaket bersama santan encer dan gula cair.

Nah, oleh-oleh lainnya adalah kerupuk gurilem, yang mirip mie panjang,

yang diantarkan jauh-jauh oleh para pengrajinnya dari Cililin Kabupaten Bandung. Tambahan garam dan bumbu cabai membuat kerupuk ini tampak sangar. Tapi, rasanya sebenarnya tak terlampau pedas.

Perjumpaan dengan Pasar Cihapit siang itu kami tutup dengan lumpia goreng yang dijajakan di roda kaki lima. Seribu rupiah saja satunya. Hanya ada kol dan wortel didalamnya, tapi saus kacangnya yang kental, bersemu pedas segar, makin meneguhkan niat kami untuk kembali ke Pasar Cihapit dalam perjalanan kami ke Bandung berikutnya!

Leave a comment »

Ketika Musim Banting Harga Tiba

Kendati dikenal sebagai fotografer papan atas, Roy Genggam mengaku tak punya banyak waktu memotret di luar studionya. Walaupun selalu menyempatkan menabung foto saat bepergian ke luar kota–salah satu hasilnya ialah foto sawah yang dijepretnya di Jawa Timur yang kini terpajang di iklan Mie Sedap–Roy mengaku berada sepenuhnya di studio saat hari kerja.

Intensitas kerjanya itu, kata Roy, berkorelasi dengan sistem manajemen yang dibangun timnya. Selain kualitas hasil foto yang prima, manajemen yang rapi juga turut menentukan kepercayaan perusahaan-perusahaan iklan yang menjadi kliennya.

“Sekarang ini orang-orang iklan yang dulunya anggota tim kreatif, sudah jadi creative director di perusahaannya. Mereka bisa loyal karena nyaman; bukan cuma karena yakin dengan hasil kerja, tapi juga manajemen,” ujar Roy.

Sementara Roy menjadi sang eksekutor permintaan klien, sang istri Artie menjadi nakhoda manajemen studionya. Manajemenlah yang mengalkulasi harga, mengoordinasi anggota tim lepasan yang digunakan di setiap sesi pemotretan, termasuk menetapkan perjanjian dengan kliennya.

Penataan manajemen itulah yang luput dilakukan sebagai kawan seangkatannya. Kondisi kemudian diperparah dengan serbuan kamera digital yang dimulai sejak 2000.

“Sebagian orang kini menggampangkan fotografi. Di tengah kondisi itu, beberapa fotografer, karena sulit mendapat order, banting harga. Bayangkan, saat saya memulai pada 1990, seorang fotografer junior seperti saya mematok harga minimum Rp750 per shot. Kini pada 2011, harga per shot bisa Rp250 ribu,” kata Roy.

Dalam menyikapi kondisi itu, Roy mengaku tetap berupaya konsisten mempertahankan kelasnya. Namun, klien-kliennya tetap setia dan papan yang menuliskan jadwal kerjanya tak pernah kosong. Pasalnya, kualitas karya, kepatuhan pada tenggat, dan kepastian standar kerja dirasa sebanding dengan harga yang ditetapkan.

“Tapi saya optimistis, tiga hingga lima tahun yang akan datang akan menjadi masa-masa yang bagus untuk fotografi komersial. Karena, lama-kelamaan orang akan menyadari risiko atas kualitas foto yang tidak terjamin, waktu yang enggak nguber, dan risiko-risiko lainnya,” kata Roy.

Leave a comment »

Roy Genggam setelah 21 Tahun

Roy Genggam Photography bertahan bahkan terus menggeliat di dunia foto komersial setelah lebih dari dua dekade. Kualitas karya dan manajemen yang rapi menjadi kuncinya. Bolak-baliklah halaman koran, majalah, dan tabloid, atau layangkan pandangan Anda ke papan iklan yang tersebar di berbagai sudut kota, maka Anda tak akan sulit menemukan karya Roy Genggam. Lelaki pendiri Roy Genggam Photography ini telah bertahan selama 21 tahun di dunia foto komersial.

Ia terus berkarya ketika sebagian besar teman sejawatnya, yakni fotografer senior yang juga punya nama besar, pelan-pelan telah berhenti memotret. Di saat yang sama, persaingan dengan fotografer junior juga tak kalah sengit.

Jadwal kerja Roy sepanjang Agustus hingga September yang terpampang di studionya yang lega dan resik di kawasan Cireundeu, Jakarta Selatan, menjadi bukti bahwa ia masih menjadi vendor favorit perusahaan advertising. Roy memang sering bekerja untuk perusahaan iklan, ia mengeksekusi konsep foto yang sebelumnya telah dirancang tim kreatif perusahaan iklan. Foto yang dihasilkannya kemudian diolah menjadi materi iklan yang kemudian dipajang dalam bentuk neon sign juga iklan di media cetak.

“Bidang saya adalah fotografi komersial atau fotografi iklan. Jika fotografi jurnalistik menangkap momen atau taking picture, saya menciptakan momen atau making picture,” kata laki-laki yang sempat kuliah di Sinematografi Institut Kesenian Jakarta itu.

Sebagian besar foto itu dihasilkan Roy di studionya. Kamera memang dipegang langsung oleh Roy, tapi dalam bekerja ia didukung tak kurang dari sembilan anggota tim tetap. Itu belum termasuk tenaga praktisi lepas, mulai make-up artist, penanggung jawab kostum, hingga mereka yang membuat setting.

Roy menyebut studionya kini mirip rumah produksi. Sebuah mobil pun bisa masuk ke ruangan yang dilengkapi tata lampu dan properti fotografi.

Tak mengherankan bila perusahaan advertising masih menjadikan dia sebagai pilihan utama saat mereka membutuhkan materi foto yang terbilang spesial. Pasalnya, kendati Roy tak membeberkan nilai proyek-proyeknya, dengan melihat proses kerja dan tim yang terlibat tentu jumlah nominalnya tak murah. Lazimnya, klien memanggil Roy jika gambar yang dibutuhkan akan menjadi materi promo yang istimewa. Kalender portofolio Roy mengawali kariernya dengan modal kekecewaan pada kampusnya. Roy memutuskan terjun langsung ke dunia kerja dan tak menyelesaikan kuliahnya. Saat itu ia sudah memiliki ketertarikan pada fotografi, bisa jadi karena saat kuliah ia juga lebih sering berdiri di belakang kamera yang ketika itu masih menggunakan pita.

Sejak awal, Roy sudah bertekad mandiri. Maka, ia pun hanya betah bekerja selama empat tahun di dua majalah arsitektur. Ia memulai bisnisnya pada 1990 dengan mengontrak di sebuah rumah di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, untuk dijadikan studio.

“Sembilan dari 10 fotografer itu biasanya anak orang kaya, dan saya adalah satu orang yang tak termasuk di dalamnya. Keluarga saya bukan orang kaya, biasa saja,” kata Roy mengulang kalimat yang sering diucapkannya saat memberi workshop kepada para fotografer muda.

Kantor dan studio, kata Roy, meski masih bersahaja, menjadi representasi profesionalitas. Modal lainnya, kamera Bronica tiga lampu yang saat itu menjadi standar kamera profesional. Ia pun mulai menjajaki perkawanan dengan tim kreatif perusahaan-perusahaan advertising papan atas.

Namun, terobosan terbesar dibukukannya saat ia menyebarkan kalender yang memuat portofolionya. Strategi yang dilakukannya pada era itu terbilang tak biasa. Alhasil, order foto iklan pun berdatangan. Sebagian kliennya terheran-heran saat membandingkan hasil karyanya dengan kondisi studionya.

Pada 18 bulan berikutnya, Roy bisa mengontrak rumah yang lebih besar, masih di daerah Tebet. Iklan sabun mandi Giv yang dibintangi Marcella Zaliyanti dengan latar belakang karpet merah yang glamor, begitu pula iklan Nu Green Tea yang jenaka dengan setting lift, dihasilkan di studio itu.

Manajemen foto

Tepat pada September tahun ini, Roy sudah bekerja selama setahun di studio miliknya sendiri. Di atas lahan 600 meter dengan konsep bangunan yang fungsional tapi tetap asyik itu, Roy mulai menjalin kemitraan dengan para juniornya.

Sejak awal 2011, Roy membuka Genggam Photo Management untuk mengakomodasi permintaan perusahaan advertising yang kliennya berminat menggunakan jasanya tetapi tak kesampaian karena faktor biaya.

“Jadi, nanti akan ada beberapa pilihan. Jika pakai Roy, ini portofolionya, propertinya, tapi ada juga opsi fotografer di manajemen kami, kini sudah ada tiga orang yang lolos seleksi. Mereka punya portofolio dan propertinya masing-masing. Klien bisa menyesuaikan dengan kebutuhan dan dananya,” ujar lelaki pehobi reptil itu.

Buat para junior di manajemennya, Roy memberlakukan sistem serupa, besaran persentase yang diterima sama persis dengan yang ia terima. Jadi, calon pemakai jasa studionya tak perlu buru-buru mundur ketika mendengar nama dan melihat daftar klien studionya.

Leave a comment »

Sehari Penuh Warna di Ubud

Sepotong Bali yang hijau dan tenang ini menyuguhkan aneka cerita untuk mengisi satu hari anda. Telusuri Ubud yang terus bergeliat menikmati limpahan rupiah dan dollar dari industri wisata namun di sudut-sudut jalannya juga menyajikan pemandangan perempuan berbaju adat yang syahdu bersembahyang di pura rumah, toko atau kantornya. Sebagian warga Ubud memang masih menyempatkan diri berbaju adat dalam ritual doa sehari-harinya.        

Usai sarapan di hotel atau kamar-kamar sederhana namun bersih yang di Ubud harganya mulai Rp 150 ribu, segera tetapkan tujuan anda. Jika anda ingin menelusuri perkampungan, melihat aktivitas keseharian masyarakat lokal, serta mampir di kebun kopi luwak, maka anda dapat memilih Bali Eco Cycling Tour yang dimulai pukul delapan pagi hingga pukul lima
sore.

Tur yang rutenya sebagian besar menyusuri jalanan menurun ini banyak dipilih pelancong asing, salah satunya pemuda asal Belanda yang satu penginapan dengan kami. Tur dimulai di Penelokan Kintamani yang di sepanjang jalannya kita dapat menikmati panorama Gunung Batur, jalanan pedesaan dan tentunya kebun dan sawah yang pada di bagian-bagian tertentu dipasangi tulisan, disewakan.

Tur seharga Rp 360 untuk orang dewasa dan Rp 250 ribu bagi peserta anak-anak ini juga menyediakan tempat duduk bagi pelancong yang membawa serta bayinya. Mari mengayuh!

Pilihan lain buat menikmati Ubud di pagi hari adalah Pasar Ubud. Pasar Tradisional ini mengakomodasi banyak kepentingan sehingga warna yang dihadirkannya pun beragam.
Anda bisa melihat perempuan-perempuan pedagang dengan kebayanya yang eksotis berdoa di muka tokonya, menempelkan butir-butir beras di dahinya, sebelum menawar cendera mata yang mereka jajakan.

Beragam rempah yang lazim digunakan pada masakan lokal termasuk buah panili yang masih lengkap dengan kulitnya serta tentunya sesajen yang telah siap digunakan, dijajakan di pasar yang telah jadi spot bagi pelancong ini.
Terselip penjaja nasi yang menjajakan menu sarapan tongkol dan jukut alias urap sayuran. Sempatkan membeli salak dan jeruk, hasil kebun petani lokal. Saya membeli satu kilo dan diberikan banyak bonus!

Mampirlah ke Sacred Monkey Forest Sanctuary di Padangtegal. Tempat yang lazim berada di daftar destinasi turis ini tentu saja menawarkan pengalaman menonton perilaku monyet ekor panjang alias macaca fasciculari. Tamannya sendiri tak terlampau istimewa. Namun, mesti diakui, 300 ekor monyet di lokasi ini memang terbilang spesial.

Tak seperti di lokasi wisata bermaskot monyet lainnya, hewan yang dianggap penghuni suci lokasi wisata yang didalamnya terdapat Pura Dalem Agung ini mereka terbilang santun. Tidak agresif apalagi mencuri. Kecuali, jika anda membawa pisang yang banyak dijual di muka gerbang, mereka akan mengikuti, terkadang juga mengambil langsung buah favoritnya itu dari tangan anda.
Mereka juga akan dengan senang hati membantu mengabadikan kedatangan Anda di taman yang ditumbuhi pepohonan besar itu dengan menaiki tubuh para pelancong yang mengacungkan pisang. Bisa mencoba sendiri atau jika tak cukup bernyali, anda bisa minta bantuan petugas.

- Nikmati lukisan Affandi, Noman Gunarsa dan Antonio Blanco yang termasyhur di Museum Rudana di Jalan raya Ladtunduh yang hijau. Dengan tiket seharga Rp 50 ribu per orang, anda akan ditemani pemandu yang mengantarkan anda memasuki museum yang didirikan 1995 lalu.

Tak kurang 400 lukisan para maestro tergantung di dinding museum seluas 500 meter persegi itu. Pelancong tak diperbolehkan membawa kamera namun anda dapat berlama-lama tenggelam menikmati karya para perupa.
Jika lukisan itu terlanjur memikat mata atau anda terpaut pada kisah sukses pasangan Nyoman Rudana dan Ni Wayan Olasthini sang pemilik museum yang juga pebisnis lukisan papan atas negeri ini, anda bisa memulainya dengan menginvestasikan dana anda pada karya yang dipajang di galeri.

“Ada juga kok yang harganya puluhan juta dan bisa dinego,”kata I wayan Jaya, Operation Manager and sales Executive Rudana Fine Art Gallery yang terletak tepat di sebelah museum.

- Jika waktu Anda buat menelusuri pesawahan di Ubud yang termasyhur karena teraseringnya yang menawan sistem pengairan subaknya yang legendaris sangat sempit, arahkan kendaraan ke Tegalalang, Gianyar. Sepotong pemandangan mempesona itu hadir di depan mata langung ketika kendaraan terparkir.

Spot ini telah dikomodifikasi buat turis sehingga selain toko suvenir di pinggir sawah yang saat kami kunjungi tengah menguning, tersuguh juga cerita dari pemilik kios cendera mata yang menuturkan mereka juga mesti membayar beberapa ratus ribu rupiah per tahun pada pemilik sawah. Sawah cantik, pertanian lancar, bisnis suvenir jalan terus dan foto kita pun keren, yuk mari!

Leave a comment »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.